Selasa, 28 Juni 2016

Syiah VS Aswaja


Sekilas sejarah awal muasal mengapa ada suni dan mengapa ada syi'ah.

Pada awalnya Nabi Muhammad SAW hanya memeluk 1 agama spesifik dan agama itu adalah ISLAM.

ISLAM adalah agama yang menyempurnakan wahyu-wahyu Ilahiah yang telah diturunkan semenjak zaman Adam AS.

Dinamakan ISLAM karena pemeluk agama ini beranggotakan orang-orang yang BERSERAH DIRI, TUNDUK dan TA'AT, BERHATI MULIA, PENUH KASIH yang berladaskan kepada Allah SWT dan mengakui ke rasulan Muhammad SAW.

Lalu mengapa sekarang bisa muncul 2 golongan besar dari umat yang awalnya adalah 1.

Untuk melihatnya secara objectif, ane mau coba memberikan gambaran yang utuh mengenai SEJARAHnya sehingga bisa menjadi masukan bagi sebagian yang lain yang masih gak ngerti atau masih ngotot bahwa aa yang dipeluknya adalah yang paling benar.

Ane membagi 2 golongan besar dalam islam. Golongan pertama adalah golongan pengikut rasullulah. Golongan ini tau dengan nyata tentang apa yang dibawa oleh rasul, akhlak rasul, kelemah lembutan rasul karena mereka termasuk orang-orang yang mencicipi nikmat kasih sayang Islam sedari awal. Diantara yang masuk golongan ini adalah para sahabat rasul yang utama, yaitu 4 AMIRULLMUKMININ yang pertama; Abu Bkr, Umar, Utsman dan Ali.

Golongan kedua adalah golongan Islam yang masuk belakangan yang disebabkan karena KETERPAKSAAN. Contoh golongan ini adalah orang-orang kafir Quraish yang kalah perang sehingga mereka terpaksa masuk islam demi menyelamatkan nyawa sendiri. Walaupun tidak semua dari golongan ini adalah golongan yang tidak benar.

Titik fokus kita adalah di golongan yang ke dua. Karena kemungkinan terbesar munculnya fitnah besar dizaman Ali adalah karena ulah dari golongan kedua ini.

Untuk memahami mengapa bisa terjadi perpecahan dalam islam, kita harus sekali lagi melirik dan memperhatikan secara serius tentang adat-adat jahiliyah kala itu.

Sebagaimana yang sudah diketahui secara umum, kaum jahilliyah kala itu adalah kaum yang sombong, arogan, mengikuti hawa nafsu, dan percaya pada hukum "siapa kuat dia yang menang".

Salah satu unsur kejahilliyahan ini adalah unsur BERBANGGA TERHADAP KETURUNAN.

Unsur tersebut diatas adalah salah satu unsur yang bisa dibilang dasar pemicu perpecahan umat ISLAM kala itu.

Sebagaimana kisah keluarga yang memiliki masalah warisan, kaum Quraish adalah keturunan dari Al NADR (QURAISY).

Bani Quraish dikemudian hari memiliki beberapa percabangan :
1. Bani Ady
2. Bani Tayim
3. Bani Makhzum
4. Bani Zuhrah
5. Bani Ummaya
6. Bani Hasyim

Penggolongan Bani ini secara sosial biasanya didasari oleh JUMLAH keturunan dan JUMLAH kekayaan. Demikianlah Konstruksi sosial masyarakat waktu itu didasari oleh JUMLAH anggota keluarga (klan) maupun kekayaan. Maka tidak heran apabila dikemudian hari kaum yang memiliki jumlah keluarga terbanyak (laki-laki diutamakan) memiliki peran penting dalam konstruksi tatanan sosial masyarakatnya. Dan untuk keluarga kaya juga termasuk kaum terpandang.

Sudah menjadi hal yang biasa dalam keluarga besar sering terjadi konflik saling klaim terhadap sesuatu mulai dari kekayaan, perempuan bahkan tahta.

Sepeninggalan Muhammad SAW, terjadi saling klaim kekuasaan didalam bani Quraish. Sekalipun sahabat-sahabat nabi pada waktu itu adalah para sepupu tapi tidak keraguan bahwa mereka termasuk orang-orang yang benar akhlaknya baik dalam harta maupun kekuasaan.

Akan tetapi sekali lagi, didalam kaum Quraish sendiri tidak semua telah meninggalkan budaya jahil, terutama mereka yang masuk islam belakangan karena keterpaksaan.

Tampaknya hembusan perebutan kekuasaan sudah bertiup semenjak Rasullulah SAW wafat dan semakin besar seiring waktu berlalu.

Ketika Abu Bkr r.a terpilih menjadi Amirulmukminin, orang-orang Quraish dari rumpun yang berbeda mulai sibuk saling klaim. Terbukti dari beberapa suara miring yang mengatakan bahwa seharusnya yang menjadi amirulmukminin pada waktu itu seharusnya Ali r.a.

Kembali lagi ke pernyataan bahwa para sahabat nabi adalah orang-orang yang akhlaknya dapat dipertanggungjawabkan, Ali r.a tidak mempermasalahkan hal ini....tapi pola pikir ini akan berbeda jika ditinjau dari sudut pandang jahiliyah.

Pergantian amirulmukminin terus berlanjut hingga akhirnya SALING KLAIM terjadi antara BANI. (Hal ini tidak terlalu terekspos karena para sejarawan hanya melihat dari sudut fakta pendek tanpa mau repot menjelaskan akar permasahannya)

Hingga akhirnya setelah Ali r.a syahid, Hasan r.a dan Husain r.a ikut menjadi korban politik pada saat itu.

Siapakah yang menjadi ancaman paling berbahaya dari sebuah kelangsungan kerajaan/pemerintahan selain keturunan dari raja yang telah tumbang atau ditumbangka??

Hasan r.a dan Husain r.a telah menjadi korban atas fitnah yang besar yang melanda kekhalifahan pada waktu itu.

Fitnah ini berhembus tidak lain dan tidak bukan karena kekurang pahaman para pengikut dan kaum kerabat Quraish atas nilai-nilai yang seharusnya dipegang oleh Amirulmukminin.

Masing-masing Kekhalifahan memiliki pendukung, dan pendukung yang paling utama mulai bergeser dari "KETAQWAAN" menjadi "KESUKUAN"...

MAka setelah kejadian terbunuhnya Hasan r.a dan Husain r.a mulailah segala sesuatunya berubah. Kaum kerabat Hasan dan Husain merasa di zalimi semenjak zaman Ali dan berlanjut hingga syahidnya mereka dan kepedihan mereka tercermin lewat sebuah perayaan Ashura syi'ah.

Tidak diketahui secara pasti apakah kisah pembantaian kaum kerabat Hasan dan Husain cucu nabi Muhammad SAW didasari oleh niatan yang HAQ atau BATHIL, yang jelas... hanya sang pengambil keputusanlah yang paling bertanggung jawab atas pembantaian tersebut.

Semenjak itu... lahirlah cikal bakal suni(penerus kekuasaan 4 generasi amirulmukminin yang dipegang oleh bani umayyah)...dan lahirlah syi'ah.

Maka siapakah yang paling dekat dengan kebenaran...?

Kalo menurut ane....DITINJAU dari SEJARAHNYA... 2-2nya jangan di benarkan dan jangan di salahkan...sebab ISLAM bukanlah tentang KEKUASAAN atau KETURUNAN...melainkan KETAQWAAN kepada Allah SWT.

KAlau bicara akidah... ya tentu saja kimpoi mut'ah tidak dapat dibenarkan karena secara sederhana kimpoi mut'ah mengarah kepada prostitusi...dan pengagung-agungan berlebihan kepada para ahli hadits yang menyatakan bahwa mereka tidak mungkin salah adalah sesat karena yang paling mengetahui kebenaran adalah Allah SWT bukan manusia penulis kitab.

selahkan di komen, tenang aja setiap comment akan saya publish